teman yang selalu menunda pulang

16 Maret 2011 at 07:43 Tinggalkan komentar

jangan pernah menunda menemui orang yang kamu cintai. karena kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi besok pagi. begitu pesan yang ia sampaikan setiap mengakhiri pembicaraan di telepon. sebagai teman baik, ia tak ingin apa yang dialaminya terulang. peristiwanya terjadi baru sebulan lalu.

sebagai orang urban yang bekerja di kota besar, sibuk adalah alasan paling klise yang dijadikan “template” ketika menunda sesuatu yang berhubungan dengan bukan uang. kerja, miting dengan klien, ngopi-ngopi atau sekedar hang out untuk mengisi status fb atau twitter.
ia selalu menunda kepulangannya ke rumah neneknya di kota lain. meski berkali-kali nenek yang tinggal sendirian itu meneleponnya, ia abai. ia tetap saja menunda, tanggal-tanggal di kalendernya sudah penuh coretan semua. ia memutuskan pulang bulan depan. sebelum hijrah ke metropolitan ia tinggal bersama nenek yang selama ini mengurusnya.
setiap sabtu pagi ia menelepon dan berbincang. setiap akhir bulan ia selalu mengirimkan sejumlah uang. ia mencukupi semua kebutuhan keseharianya. dan itu ternyata tak bisa menggantikan kehadirannya di rumah. padahal ketika ia pulang, tak ada yang ia lakukan selain mengobrol lama. biasanya nenek menceritakan kegiatan kesehariannya, curhat. keluh kesah dan ketika sampai cerita lucu, mereka tertawa bersama. setelahnya biasanya neneknya memasak, menu kesukaanya.
itu saja. ya begitu saja, tak ada yang istimewa.
pagi itu ia mau tak mau harus pulang. ia harus bertemu untuk yang terakhir dengan neneknya. dan ternyata ia bisa menunda, membatalkan dan menghentikan semua kegiatannya saat itu. langsung ia menuju bandara, pulang dengan diam. tak ada oleh-oleh khusus lagi buat neneknya. ia merasa semua yang ia lakukan serasa tak ada gunanya.
sayang ia tak bisa menghentikan waktu. sampai di rumah neneknya, ia tak menjumpai siapa-siapa. rumah itu kini terasa kosong dan senyap. tak ada lagi yang menyambutnya. tak ada lagi pelukan oleh tangan keriput yang mendamaikannya. kebersamaan selama ini harus berakhir dan tak bisa diulang. kecuali memutar kembali kenangan di angan-angan.
ia duduk di depan nisan, bermonolog dan mendoakan. itulah cara terbaik untuk mengenang dan menebus kesalahan. tapi dunia terus berjalan, dan ia tak ingin mengulang kesalahan. kini ia lebih sering menelepon, menghabiskan waktu bersama orang-orang yang dicintainya, mumpung kesempatan masih ada.
begitulah, aku diam saja mendengar suara telepon di seberang sana. kata-kata penutupnya, “kita semua berada dalam kondisi deadline, seperti seorang pewarta tapi lebih dramatis, karena tak pernah tahu kapan waktunya habis”.
Sumber: anabis.blogdetik.com

Entry filed under: Cerita Motivasi. Tags: .

Apa sih Tsunami Itu? 10 Tempat Terlarang Untuk Ponsel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pengunjung Online


Afiadi's Soenarto Family Blog

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain

4staff

share for the best future

Situsguru.com

Belajar Ngeblog

%d blogger menyukai ini: