Tips Untuk Lebih Mencintai Buku

10 April 2011 at 14:36 Tinggalkan komentar



Kita sering mendengar, membaca, atau bahkan menggunakan slogan Buku adalah Jendela Dunia dan Membaca adalah Kuncinya. Namun, kita jarang memberlakukan buku sebagaimana seharusnya. Kita masih menganggap buku sebagai sekadar pelengkap pembelajaran bagi pengajar dan siswa/ mahasiswa, sebagai pengisi buffet bagi rumah tangga, dan sebagai teman ketika bepergian. Karena masih memaknai buku sekadar itu, kita pun belum dapat memanfaatkan buku secara maksimal. Akibatnya, kita belum mampu membuka dunia.
Kondisi ini terjadi karena berbagai kesalahan yang sering kita lakukan. Kita sering memberlakukan buku dengan sikap kurang terpuji. Ada lima sikap tak terpuji yang sering kita lakukan, yaitu menganggap benda mati, menjaga kebaruan, malas merawat, kikir membeli, dan jarang meminjamkan. Kelima sikap buruk itu harus dienyahkan. Bagaimanakah caranya?
Sikap 1: Menganggap Benda Mati
Secara dzat, buku memang benda mati. Ketika dibanting, buku tidak akan berteriak kesakitan. Ketika dipuji, buku tidak akan tertawa. Namun, sesungguhnya buku itu benda hidup. Mengapa dapat dikatakan demikian? Jawabnya sederhana: buku dapat berdialog.
Ketika membaca buku, kita sebenarnya sedang berdialog dengan penulisnya. Kita ingin mengetahui isi buku itu sebagai realisasi ide penulisnya. Begitu membaca judul buku itu, kita pun tertarik untuk memegang, membuka, membaca, dan (tentunya) membelinya. Itulah sikap yang harus dilakukan kepada buku: menganggapnya sebagai benda hidup.
Sikap 2: Menjaga Kebaruan
Buku yang baik bukanlah buku yang masih baru, terus baru, dan tetap baru. Menurutku, buku yang baik adalah buku yang lusuh, kumal, dan kotor. Mengapa? Itu menjadi penanda bahwa buku itu sering dibaca. Jadi, kita menjaga buku itu tetap baru adalah sikap tercela.
Begitu mempunyai buku, kita langsung memasukkannya ke buffet. Lalu, buffet itu dikunci dan kuncinya dimasukkan ke sumur. Hingga kiamat pun, buku itu akan tetap baru. Maka, kita harus menghilangkan budaya itu seraya sering menyentuhnya. Inilah cara bijak memanfaatkan buku: sering membacanya.
Sikap 3: Kikir Membeli
Begitu gemarnya kita membeli kebutuhan konsumtif: makanan, minuman, kendaraan, alat rias, pakaian, kendaraan, dan rumah beserta perkakasnya. Begitu terlihat iklan atau penawaran produk baru, kita bergegas membelinya karena malu dikatakan teman jika tidak mengikuti zaman. Namun, begitu kikirnya kita membeli buku meskipun kita benar-benar membutuhkannya. Ini adalah sikap yang teramat tercela.
Seharusnya kita mempunyai budget untuk membeli buku meskipun hanya 1% dari penghasilan kita. Berinvestasi buku tidak mengenal rugi. Selagi masih tersimpan, buku itu masih dapat digunakan hingga anak cucu. Maka, marilah kita membudayakan kegemaran membeli buku. Ini adalah solusi terbaik untuk mengatasinya.
Sikap 4: Malas Merawat
Membeli sesuatu itu mudah. Selagi mempunyai uang, kita begitu mudah mengeluarkannya untuk membeli barang. Namun, sikap buruk pun mengikutinya. Apa itu? Membiarkan barang terbeli dan malas merawatnya. Inilah yang sering dilakukan banyak orang.
Mungkin kita sering tergoda dengan buku karena judulnya bagus, menarik, atau ditulis teman. Lalu, kita pun membelinya. Jika tidak demikian, kita merasa malu ketika berjalan atau mengikuti acara resmi yang berhubungan dengan buku. Lalu, kita pun membeli buku itu sekadar sebagai penutup rasa malu. Maka, kita pun malas merawat karena didasari dari rasa malu, bukan didasari rasa ingin tahu. Jadi, hendaknya kita rajin membeli buku dan rajin pula merawatnya. Silakan dikemas atau dikuliti plastik. Syukur-syukur dibuatkan catalog dan ditulisi “koleksi pribadi”. Inilah yang seharusnya kita lakukan kepada buku.
Sikap 5: Jarang Meminjamkan
Berbuat baik akan menuai hasil baik. Artinya, kita hendaknya gemar berbuat baik jika kita ingin menuai atau memanen kebaikan. Itu pun termasuk budaya buku. Apa itu: saling bertukar dan atau meminjamkan buku.
Kemampuan setiap orang berbeda-beda. Ketika bertemu teman yang membutuhkan buku, hendaknya kita suka meminjamkannya. Biarkanlah buku itu rusak karena digunakan daripada rusak karena dimakan rayap. Dengan gemar meminjamkan buku, teman akan menyukai kita. Lalu, ia pun pasti juga berkenan membantu kita ketika kita membutuhkan bantuannya. Saling menolong atau membantu harus menjadi budaya di antara kita.
Jumat (8 April 2011), aku membeli 6 buku berbahasa Inggris. Buku itu menjadi literature bagi kepentingan disertasiku. Begitu buku itu terbeli, aku langsung berusaha melakukan kelima langkah di atas. Kelima buku itu melengkapi ribuan buku koleksi perpustakaan pribadiku. Bagiku, buku telah menjadi istri keempatku. Maka, aku harus memberlakukan istriku dengan sebaik-baiknya agar aku dilayani dengan sebaik-baiknya pula.
Demikian tulisanku pagi ini. Karena ini hari Minggu, marilah kita berbelanja buku. Ajak istri/ suami, anak, kawan, dan saudara berkunjung ke toko buku. Jika uang belum tersedia, Anda dapat meminjamnya kepada rekan yang lain. Malulah Anda kepada buku. Membeli motor dan pakaian mahal saja berani berhutang. Untuk membeli buku saja, Anda akan mengatakan tak punya uang. 
 
Semoga bermanfaat.



Sumber: media.kompasiana.com

Entry filed under: artikel. Tags: .

Google +1 untuk Pencarian Sosial Lebih Baik Twitter Artis Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pengunjung Online


Afiadi's Soenarto Family Blog

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain

4staff

share for the best future

Situsguru.com

Belajar Ngeblog

%d blogger menyukai ini: